
- Objek yang awalnya dikira eksoplanet di sistem bintang Fomalhaut terbukti merupakan awan puing sisa tabrakan dahsyat.
- Data Teleskop Hubble mengungkap adanya dua ledakan kosmik besar dalam kurun waktu 20 tahun, sebuah anomali statistik yang mengejutkan astronom.
- Fenomena ini menjadi tantangan baru bagi misi perburuan planet layak huni di masa depan agar tidak terkecoh oleh "planet ilusi".
Langgampos.net - Teka-teki mengenai hilangnya sebuah objek yang diduga sebagai planet di luar Tata Surya akhirnya terjawab melalui temuan mencengangkan dari luar angkasa.
Para ilmuwan baru saja mengonfirmasi bahwa objek misterius di sistem bintang Fomalhaut yang berjarak 25 tahun cahaya dari Bumi tersebut bukanlah sebuah planet, melainkan dampak dari ledakan kosmik dahsyat.
Fenomena langka ini terdeteksi melalui pengamatan mendalam Teleskop Antariksa Hubble (HST) milik NASA yang menunjukkan bahwa cahaya terang tersebut sebenarnya adalah awan puing raksasa hasil tabrakan dua benda langit masif.
Awalnya, para astronom mendeteksi titik cahaya konsisten di sekitar bintang Fomalhaut. Cahaya ini diyakini sebagai eksoplanet yang memantulkan sinar bintang induknya.
Awalnya, para astronom mendeteksi titik cahaya konsisten di sekitar bintang Fomalhaut. Cahaya ini diyakini sebagai eksoplanet yang memantulkan sinar bintang induknya.
Namun, teori tersebut runtuh saat objek itu menghilang secara tiba-tiba dan justru memicu munculnya sumber cahaya baru di koordinat yang berbeda.
"Menemukan sumber cahaya baru di sabuk debu di sekitar sebuah bintang adalah sesuatu yang mengejutkan. Kami sama sekali tidak menduganya," ujar Jason Wang, astrofisikawan dari Northwestern University yang terlibat dalam penelitian ini, dikutip dari Science Daily, Sabtu (3/1/2025).
Analisis lebih lanjut mengungkap bahwa cahaya itu berasal dari awan puing yang sangat panas dan bercahaya, sisa dari benturan hebat antara dua planetesimal atau objek berbatu besar menyerupai asteroid.
Hal yang paling mengejutkan para peneliti adalah frekuensi kejadiannya. Data Hubble menunjukkan telah terjadi dua peristiwa benturan besar di Fomalhaut hanya dalam waktu 20 tahun, padahal secara teoretis, peristiwa sebesar itu diprediksi hanya terjadi sekali dalam ratusan ribu tahun.
"Kami menyaksikan dua ledakan kosmik dalam waktu yang sangat singkat. Ini benar-benar di luar dugaan," kata Paul Kalas, astronom dari University of California, Berkeley sekaligus penulis utama studi ini.
Ledakan tersebut menciptakan awan debu masif yang memantulkan cahaya bintang dengan intensitas tinggi, sehingga menyerupai bentuk planet utuh jika dilihat dari kejauhan.
"Kami menyaksikan dua ledakan kosmik dalam waktu yang sangat singkat. Ini benar-benar di luar dugaan," kata Paul Kalas, astronom dari University of California, Berkeley sekaligus penulis utama studi ini.
Ledakan tersebut menciptakan awan debu masif yang memantulkan cahaya bintang dengan intensitas tinggi, sehingga menyerupai bentuk planet utuh jika dilihat dari kejauhan.
Seiring berjalannya waktu, awan puing tersebut mengembang dan memudar, mengakibatkan "planet" tersebut seolah lenyap seketika dari jangkauan teleskop.
Penemuan ini menjadi alarm bagi komunitas pemburu planet di seluruh dunia. Terbukti bahwa awan puing akibat tabrakan besar dapat menciptakan ilusi optik yang menipu teleskop canggih selama bertahun-tahun.
Penemuan ini menjadi alarm bagi komunitas pemburu planet di seluruh dunia. Terbukti bahwa awan puing akibat tabrakan besar dapat menciptakan ilusi optik yang menipu teleskop canggih selama bertahun-tahun.
Kini, para ilmuwan harus lebih waspada dalam membedakan antara planet sungguhan dan awan debu, terutama saat bersiap menggunakan teknologi masa depan seperti James Webb Space Telescope (JWST) dan Giant Magellan Telescope.
Langkah selanjutnya, tim peneliti akan menggunakan kamera inframerah JWST untuk membedah komposisi awan puing tersebut.
Langkah selanjutnya, tim peneliti akan menggunakan kamera inframerah JWST untuk membedah komposisi awan puing tersebut.
Fokus utama penelitian ke depan adalah mencari jejak air atau es, yang merupakan unsur krusial dalam pembentukan planet.
Studi mendalam bertajuk "A second violent planetesimal collision in the Fomalhaut system" ini mendapatkan dukungan penuh dari NASA melalui pendanaan dengan nomor penghargaan HST-GO-17139.
Bukan planet yang meledak, melainkan ilusi planet yang tercipta dari puing-puing tabrakan kosmik.
Bukan planet yang meledak, melainkan ilusi planet yang tercipta dari puing-puing tabrakan kosmik.
(*)