LANGGAMPOS.NET - Korea Selatan kini tengah menghadapi ancaman serius dari wabah penyakit yang ditularkan melalui gigitan serangga, yang populer dijuluki sebagai "kutu pembunuh".
Hingga saat ini, tercatat sebanyak 422 orang di seluruh negeri telah menghembuskan napas terakhir akibat infeksi mematikan yang dibawa oleh serangga kecil tersebut.
Guna menekan angka fatalitas, pemerintah setempat bergerak cepat dengan meluncurkan program pemantauan intensif terhadap penyakit menular yang disebarkan melalui perantara kutu.
Melansir laporan dari Korea Herald, Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea secara resmi memulai pengawasan terhadap Sindrom Demam Parah dengan Trombositopenia.
Langkah preventif ini dijadwalkan akan berlangsung hingga November mendatang, mengingat periode tersebut merupakan masa paling aktif bagi populasi kutu di alam liar.
Pemantauan dilakukan secara serentak di 26 lokasi strategis di seluruh penjuru Korea Selatan, terutama pada kota-kota dengan kepadatan populasi kutu yang tinggi.
Kutu pembawa virus SFTS ini biasanya bersarang di area berumput dan semak belukar, serta mulai menunjukkan aktivitas tinggi sejak memasuki bulan April.
Secara alami, serangga ini menjadi parasit pada hewan seperti sapi dan anjing, namun manusia juga berisiko tinggi terinfeksi jika terjadi kontak langsung.
Paparan sering kali terjadi saat seseorang berada di area terbuka tanpa mengenakan pakaian pelindung yang memadai untuk menutupi permukaan kulit.
Seseorang yang terinfeksi akan menunjukkan gejala klinis seperti demam tinggi yang ekstrem, muntah-muntah, hingga diare akut.
Gejala tersebut biasanya mulai muncul dalam rentang waktu lima hingga 14 hari setelah virus masuk ke dalam sistem tubuh melalui gigitan kutu.
Sejak kasus pertama kali ditemukan di Korea Selatan pada tahun 2013, data menunjukkan rata-rata terdapat 180 laporan infeksi setiap tahunnya.
Hal yang paling mengkhawatirkan adalah tingkat kematian atau fatality rate dari penyakit ini yang mencapai angka cukup tinggi, yakni sekitar 18 persen.
Situasi kian mendesak karena hingga saat ini belum ditemukan vaksin khusus maupun metode pengobatan medis yang efektif untuk menyembuhkan infeksi SFTS.
Oleh karena itu, otoritas kesehatan Korea Selatan menegaskan bahwa satu-satunya cara terbaik untuk menghadapi wabah ini adalah melalui langkah pencegahan yang ketat.
"Saat melakukan aktivitas di luar ruangan, hindari berlama-lama di area berumput dan kenakan pakaian berlengan panjang serta celana panjang," ujar Komisioner Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea, Lim Seung-kwan.
Masyarakat juga diimbau untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika merasakan gejala demam usai beraktivitas di pegunungan atau ladang.
Upaya kolektif antara pemerintah dan masyarakat diharapkan dapat memutus rantai penyebaran dan mencegah bertambahnya korban jiwa di masa mendatang.
(*)
Sumber: CNBC Indonesia, 14/04/2026


