Dampak Lingkungan Artificial Intelligence Picu Ancaman Krisis Energi dan Air Global

19 December 2025, December 19, 2025
Dampak Lingkungan Artificial Intelligence Picu Ancaman Krisis Energi dan Air Global


  • Pengembangan Artificial Intelligence meningkatkan konsumsi listrik global secara signifikan
  • Emisi karbon dari sistem AI diperkirakan setara negara bagian New York
  • Kebutuhan air data center AI berpotensi memicu krisis air dunia

Langgampos.net - Artificial Intelligence atau AI terus berkembang pesat dan menjadi tulang punggung teknologi modern, namun di balik kemajuan tersebut tersimpan ancaman serius terhadap lingkungan. 

Studi terbaru mengungkap bahwa dampak lingkungan Artificial Intelligence berpotensi memicu krisis global, mulai dari lonjakan emisi karbon hingga ancaman kelangkaan air akibat masifnya pembangunan data center dan pembangkit listrik pendukung sistem AI.

Sebuah penelitian terbaru memotret secara mendalam konsekuensi lingkungan dari perkembangan Artificial Intelligence. 

Studi ini menyoroti tingginya konsumsi energi dan air yang dibutuhkan untuk menopang sistem AI skala besar. Meski begitu, proses penelitian diakui menghadapi kendala besar karena minimnya transparansi data dari perusahaan teknologi raksasa.

"Tidak bisa memberikan angka yang sangat akurat, namun dampaknya sangat besar terlepas dari itu. Pada akhirnya, semua orang menanggung akibatnya," jelas Alex de Vries-Gao dari Institut Studi Lingkungan VU Amsterdam yang menerbitkan makalahnya, dikutip dari The Verge, Jumat (19/12/2025).

Alex de Vries-Gao mengembangkan riset lanjutan dari penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa kebutuhan daya global untuk Artificial Intelligence pada 2025 diperkirakan mencapai 23 gigawatt.

Angka tersebut jauh melampaui konsumsi energi yang dihasilkan dari aktivitas penambangan Bitcoin sepanjang 2024.

Dalam riset lanjutan itu, ia menelusuri besarnya listrik yang digunakan sistem AI, lalu mengonversinya ke dalam estimasi emisi karbon. 

Hasil perhitungan menunjukkan emisi karbon tahunan dari aktivitas AI berkisar antara 32,6 juta hingga 79,7 juta ton per tahun, angka yang berkontribusi signifikan terhadap pemanasan global.

Besaran emisi tersebut hampir setara dengan total emisi karbon yang dihasilkan negara bagian New York. 

The Verge mencatat bahwa wilayah tersebut menghasilkan sekitar 50 juta ton karbon dioksida setiap tahunnya, menjadikan dampak AI sejajar dengan aktivitas ekonomi sebuah wilayah besar.

Selain emisi karbon, penelitian ini juga menyoroti penggunaan air dalam infrastruktur Artificial Intelligence. Data center dan pembangkit listrik yang mendukung operasional AI memerlukan sistem pendingin intensif yang menyerap air dalam jumlah sangat besar.

Pesatnya perkembangan Artificial Intelligence mendorong pembangunan data center secara masif. Kondisi ini berjalan beriringan dengan bertambahnya pembangkit listrik baru untuk memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat.

Berdasarkan perhitungan, sistem AI diperkirakan menggunakan antara 312,5 hingga 764,6 miliar liter air sepanjang 2025. Angka tersebut menunjukkan tren peningkatan tajam jika dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya yang memperkirakan penggunaan air mencapai 600 miliar liter pada 2027.

Kekhawatiran mengenai krisis air dan listrik akibat ekspansi data center sebenarnya telah lama disuarakan. 

Sejumlah kelompok masyarakat dan aktivis lingkungan di Amerika Serikat menentang pembangunan fasilitas data center baru, mengingat negara tersebut menjadi salah satu pusat terbesar infrastruktur Artificial Intelligence di dunia dan berpotensi menanggung dampak lingkungan dalam skala luas.

(*)

TerPopuler