- Ketidakpastian gencatan senjata Iran-AS memicu lonjakan harga minyak Brent ke level USD 98,6 per barel.
- Bursa Asia dan US Futures memerah pagi ini menyusul serangan Israel ke Hezbollah di Lebanon.
- IHSG hari ini diprediksi menguji level resistensi 7.340 di tengah sentimen taking profit jangka pendek.
LANGGAMPOS.NET – Pasar keuangan global kembali diguncang ketidakpastian hebat pagi ini.
Eforia kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran mendadak sirna setelah muncul tuduhan pelanggaran gencatan senjata.
Ketua Parlemen Iran, Mohammed Bagher Ghalibaf, secara terbuka menuduh pihak AS telah melanggar kesepakatan yang baru berusia dua minggu tersebut.
Kabar miring ini langsung membuat bursa saham Asia dan indeks berjangka (futures) Amerika Serikat rontok ke zona merah.
Harga Minyak Brent Meroket Lagi
Sentimen negatif ini dipicu oleh rapuhnya kebijakan gencatan senjata di Timur Tengah yang sebelumnya sempat mendinginkan suhu geopolitik.
Melansir data Morning News Summary IndoPremier, harga minyak mentah jenis Brent kembali menguat tajam diperdagangan pagi ini.
Brent menanjak 2 persen ke level USD 98,6 per barel karena kekhawatiran gangguan pasokan kembali mencuat.
"Kurang dari 24 jam setelah keputusan gencatan senjata, Israel melakukan serangan terbesar kepada kelompok Hezbollah di Lebanon," tulis laporan tersebut.
Tak hanya itu, jalur pelayaran krusial di Selat Hormuz dikabarkan masih tertutup sebagian.
Banyak kapal tanker memilih menunggu karena menilai situasi keamanan saat ini masih sangat "fragile" atau rapuh.
Nasib IHSG di Tengah Badai Global
Lantas, bagaimana dengan prospek Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini?
Setelah mencatatkan lonjakan harian terbesar sejak April tahun lalu, JCI atau IHSG akan mencoba kekuatannya untuk menembus resist trend bear market.
Level psikologis yang diincar hari ini berada pada posisi 7.340.
Namun, investor patut waspada. Rapuhnya perdamaian di Timur Tengah berpotensi memicu aksi ambil untung atau taking profit dalam jangka pendek.
Meskipun begitu, para analis menilai setiap koreksi yang terjadi bisa menjadi momentum emas untuk "Buy".
Hal ini didukung oleh valuasi saham yang masih atraktif dan musim pembagian dividen yang tengah berlangsung.
Saham Pilihan dan Kinerja Emiten
Di sektor ritel, performa emiten terpantau beragam sepanjang kuartal keempat 2025.
PT Matahari Department Store Tbk (MAPI) tampil sebagai primadona dengan kinerja melampaui estimasi konsensus.
Efisiensi operasional dan kuatnya pertumbuhan penjualan menjadi kunci sukses MAPI.
Sementara itu, kinerja PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) alias Alfamart terpantau sejalan dengan ekspektasi.
Di sisi lain, hasil kinerja PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) justru dilaporkan berada di bawah perkiraan pasar.
Analis menempatkan MAPI sebagai pilihan utama di sektor ritel, disusul oleh AMRT dan ACES.
Investor kini menantikan kunjungan Wakil Presiden US, JD Vance, ke Pakistan untuk melanjutkan perundingan gencatan senjata dengan Iran guna meredam gejolak lebih lanjut.
(*)


