LANGGAMPOS.NET - Banyak orang berambisi memiliki kemampuan pemecahan masalah yang mumpuni, namun sering kali terjebak pada langkah paling mendasar.
Kenyataannya, mayoritas individu justru gagal mengidentifikasi apa yang sebenarnya disebut sebagai "masalah" sebelum melompat ke pencarian solusi.
Hal tersebut ditegaskan oleh Cania Citta dalam sesi mentoring "The Trial" bersama para penerima beasiswa Malaka Project.
Dalam diskusi yang berlangsung hangat tersebut, Cania menyoroti fenomena di mana orang sering kali keliru dalam memetakan persoalan.
Menurut Cania, sebuah masalah tidak bisa berdiri sendiri tanpa adanya tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
"Gimana kita bisa memecahkan sesuatu yang bahkan kita enggak tahu sesuatu itu apa?" ujarnya di hadapan para mahasiswa.
Ia menjelaskan bahwa proses pemecahan masalah harus melalui tahapan yang runut, dimulai dari memahami definisi masalah itu sendiri.
Setelah memahami definisi, langkah berikutnya adalah mengidentifikasi masalah yang tepat dalam sebuah situasi yang spesifik.
Cania memberikan contoh sederhana mengenai kemacetan yang sering dianggap sebagai masalah oleh semua orang secara universal.
Namun, ia menegaskan bahwa jawaban tersebut tidak selalu tepat karena status "masalah" sangat bergantung pada konteks dan tujuan.
"Jawaban yang tepat ketika kita ditanya tanpa konteks apakah sesuatu itu masalah cuma ada satu jawabannya, yaitu tergantung," jelasnya.
Masalah, lanjut Cania, adalah segala sesuatu yang menghambat tercapainya tujuan yang telah didefinisikan secara klir.
Ia menggambarkan realitas saat ini sebagai titik awal dan tujuan sebagai titik akhir yang ingin dicapai oleh seseorang atau lembaga.
Gangguan yang muncul di tengah perjalanan menuju tujuan itulah yang secara teknis dapat dikategorikan sebagai masalah.
Tanpa adanya tujuan yang jelas, sebuah hambatan hanyalah sekadar fakta atau fenomena yang tidak memerlukan solusi.
Cania juga mengingatkan agar para calon pemimpin tidak hanya menjadi pengkritik atau pihak yang sekadar mengeluh.
Masyarakat membutuhkan lebih banyak orang yang bersedia turun tangan langsung untuk menyusun sekaligus mengeksekusi solusi.
"Jangan sampai hasilnya cuma lu jadi another complainer. Kita butuh lebih banyak orang yang hands on beresin masalahnya," tegasnya.
Diskusi ini menjadi krusial mengingat para peserta sedang mempersiapkan presentasi mengenai problematika pendidikan tinggi di Indonesia.
Cania menekankan bahwa solusi yang hebat tidak akan berarti jika tidak nyambung dengan akar masalah yang sebenarnya.
Dengan pemahaman anatomi masalah yang benar, diharapkan solusi yang lahir bisa lebih efektif, tepat sasaran, dan berdampak luas.
(*)


