PBB Ingatkan Dunia Lagi Bangkrut Air dan OTW Kiamat Kekeringan Parah

01 March 2026, March 01, 2026
Donasi Langgampos Net
PBB Ingatkan Dunia Lagi Bangkrut Air dan OTW Kiamat Kekeringan Parah



  • PBB melaporkan 3 dari 4 orang di dunia kini hidup dalam ancaman kelangkaan air yang ekstrem.
  • Pemanasan global dan perluasan wilayah pertanian disebut jadi biang kerok terkurasnya "tabungan air" bumi.
  • Krisis air mulai memicu ketidakstabilan sosial, migrasi massal, hingga konflik fisik di berbagai negara.




LANGGAMPOS.NET – Sepertinya bumi sedang mengirimkan pesan "saldo tidak mencukupi" kepada umat manusia. Bukan soal uang di m-banking, tapi soal air yang makin hari makin sulit dicari daripada mencari jodoh yang setia.

PBB baru-baru ini mengeluarkan laporan yang bikin dahi mengernyit: tanda-tanda kiamat berupa kekeringan sudah mencapai level yang sangat tidak lucu alias parah. Pasokan air menipis, dan kekeringan kini bukan lagi tamu yang datang sekali-sekali, tapi sudah jadi penghuni tetap.

Data PBB menunjukkan angka yang bikin merinding, yakni tiga dari empat orang di planet ini tinggal di negara yang menghadapi kekurangan air atau kontaminasi. Bahkan, sekitar 4 miliar manusia harus merasakan sensasi gersang selama setidaknya satu bulan dalam setahun.

Kaveh Madani dari UN University Institute for Water, Environment and Health (INWEH) mencoba menjelaskan situasi ini dengan istilah yang akrab di telinga kaum mendang-mending: urusan keuangan.

Menurutnya, rekening air di permukaan bumi sudah dikosongkan secara paksa. Tidak hanya itu, tabungan masa depan manusia berupa air tanah hingga gletser pun ikut terkuras habis.

"Dengan krisis air yang terjadi di sejumlah wilayah dunia menjadi tanda dalam peringatan akan adanya 'kebangkrutan'," tulis laporan tersebut mengutip Earth.com, Minggu (1/3/2026).

Penyebabnya sebenarnya klasik tapi mematikan. Perluasan wilayah pertanian dan kota-kota yang merambah ke daerah kering jadi pemicu utama. Ditambah lagi, pemanasan global bertindak sebagai "kompor" yang membuat daerah kering makin gersang karena penguapan meningkat sementara hujan makin malu-malu untuk turun.

Jangan pikir ini hanya soal tenggorokan yang haus. Madani menilai kekurangan air ini bisa merembet ke mana-mana, termasuk stabilitas sosial. Kalau air hilang, lapangan kerja hilang, perut lapar, ujung-ujungnya bisa memicu migrasi paksa, konflik, hingga kerusuhan.

Contoh nyatanya sudah terjadi di Iran, di mana protes kekerasan pecah gara-gara sistem air gagal. Saat keran mati, stabilitas politik pun ikut mati suri karena sulit dipertahankan.

Uniknya, negara yang punya banyak air pun tidak aman-aman amat. Pusat data yang haus air dan polusi dari limbah industri hingga pupuk membuat stok air yang banyak itu jadi tidak berguna. Di Uni Eropa, lahan basah malah hilang karena disulap jadi sawah.

Madani menekankan bahwa manusia harus mulai belajar hidup dengan sedikit air dan mengelolanya secara cerdas. Masalahnya, banyak negara yang belum melakukan hal dasar seperti mencatat berapa air yang mereka punya dan berapa yang dipakai.

Maka dari itu, sangat tidak masuk akal jika pemerintah sibuk melakukan solusi mahal seperti penyemaian awan, sementara laporan soal kekurangan airnya saja belum jelas. Begitu kira-kira sindiran halus dari para peneliti.


(*)

TerPopuler

close