- Gelar Juara: Kepala Bappeda Sumenep, Arif Firmanto, resmi dinobatkan sebagai Gender Champions 2025 oleh Pemkab Sumenep.
- Aksi Nyata: Penghargaan ini diberikan karena komitmennya yang "sat-set" dalam mengawal kesetaraan gender di setiap lini pembangunan.
- Bukan Kerja Sendiri: Arif menegaskan prestasi ini adalah hasil keroyokan alias kolaborasi semua pihak, bukan cuma hasil tapa brata sendirian.
LANGGAMPOS.NET - SUMENEP – Kalau ada yang bilang urusan kesetaraan gender cuma soal "emak-emak" masuk dapur atau kantor, sepertinya mereka harus berguru ke Dr. Ir. Arif Firmanto, S.TP., M.Si., IPU., ASEAN Eng.
Kepala Bappeda Sumenep ini baru saja membuktikan bahwa laki-laki pun bisa jadi garda terdepan dalam urusan emansipasi. Bukan dengan orasi di jalan, tapi lewat kebijakan yang bikin semua orang—baik bapak-bapak maupun ibu-ibu—merasa dihargai secara adil.
Pada Rabu (18/2), Pj Sekkab Achmad Syahwan Effendy memberikan "stempel" resmi berupa penghargaan Gender Champions 2025 kepada Arif. Alasannya simpel tapi berat: Arif dinilai sangat niat dalam mendorong Pengarusutamaan Gender (PUG) di Kabupaten Sumenep.
Bayangkan saja, mulai dari urusan bikin rencana, hitung-hitungan anggaran, pelaksanaan di lapangan, sampai evaluasi akhir, semuanya dipastikan punya "kacamata" gender. Tidak ada lagi ceritanya satu pihak dianaktirikan dalam pembangunan.
Di bawah komando Arif, Bappeda Sumenep sukses menciptakan suasana pembangunan yang inklusif. Artinya, akses, partisipasi, kontrol, hingga manfaat pembangunan bisa dirasakan setara oleh semua orang tanpa memandang jenis kelamin.
Arif Firmanto sendiri menanggapi penghargaan ini dengan sikap rendah hati yang bikin adem.
"Tentu saya sangat bersyukur dan mengucapkan terima kasih atas penghargaan ini,” ujarnya dengan nada sumringah.
Baginya, piala atau sertifikat itu bukan cuma hiasan lemari. Penghargaan tersebut adalah buah manis dari kerja keras kolektif yang dilakukan banyak orang di belakang layar.
"Penghargaan ini milik bersama. Implementasi PUG adalah komitmen kolektif untuk memastikan pembangunan berjalan adil dan inklusif,” tambahnya.
Meski sudah memegang gelar juara, Arif tak mau cepat puas. Ia ingin sinergi antarinstansi di Sumenep makin kencang, supaya perspektif gender tidak cuma jadi tren sesaat, tapi mendarah daging di setiap rencana pembangunan.
"Semoga penghargaan ini menjadi motivasi untuk terus memperkuat kebijakan dan program yang responsif gender demi kemajuan daerah,” pungkasnya.
Langkah Arif ini setidaknya membuktikan bahwa di Sumenep, urusan kesetaraan bukan lagi sekadar wacana di atas kertas, tapi sudah jadi aksi nyata yang diakui negara.
Prestasi ini diharapkan menjadi pemantik semangat bagi birokrat lain untuk ikut peduli pada hak-hak yang setara bagi seluruh warga.
(*)

