- Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Sumenep diarahkan sebagai ruang refleksi kritis atas melemahnya toleransi di era digital
- Generasi Z dan Alpha menjadi sasaran utama karena dinilai rentan kehilangan ikatan kebangsaan
- Forum mendorong lahirnya gagasan kritis pemuda sebagai masukan kebijakan publik
Kegiatan sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan berlangsung di Hotel de Baghraf, Sumenep, Madura, pada Senin (22/12/2025). Forum ini diinisiasi oleh Anggota DPR RI MH. Said Abdullah sebagai bagian dari tanggung jawab konstitusional parlemen dalam menjaga kesadaran kebangsaan masyarakat. Sasaran utamanya adalah generasi muda yang tumbuh di tengah percepatan teknologi dan arus informasi tanpa batas.
Tenaga Ahli MH Said Abdullah, Moh. Fauzi, menegaskan bahwa forum ini bukan sekadar agenda seremonial. Ia menyebut sosialisasi Empat Pilar sebagai kewajiban negara untuk memastikan nilai kebangsaan tetap hidup dan dipraktikkan, terutama oleh generasi penerus.
"Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan ini perlu terus dilakukan. Amanat yang disampaikan anggota DPR RI (MH Said Abdullah) untuk menyampaikan dan merawat nilai-nilai kebangsaan," tutur Fauzi di awal sambutannya.
Menurut Fauzi, generasi Z dan generasi Alpha menghadapi tantangan kebangsaan yang jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya. Perubahan sosial yang cepat, dominasi media digital, dan derasnya arus ideologi global membuat fondasi kebangsaan rawan tergerus jika tidak diperkuat sejak dini.
"Tujuannya agar anak-anak muda, Gen Z maupun Gen Alpha memiliki rasa cinta terhadap tanah air," katanya.
Ia juga menyoroti memudarnya semangat gotong royong yang selama ini menjadi identitas bangsa Indonesia. Individualisme dan polarisasi di ruang digital dinilai telah mengikis kesadaran kolektif sebagai satu bangsa. Karena itu, keterlibatan aktif pemuda dianggap krusial untuk menjaga Indonesia sebagai rumah bersama.
"Sasarannya memang anak muda, karena semangat gotong royong perlu dibangkitkan bersama-sama. Negara ini masih ada karena kita merawatnya," kata Fauzi.
Dalam konteks ini, mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak dipahami sebagai sikap emosional sesaat. Fauzi mengingatkan bahwa komitmen kebangsaan merupakan amanat undang-undang yang harus dirawat secara berkelanjutan oleh seluruh elemen bangsa.
"Kita tidak boleh lelah mencintai NKRI. Kesadaran ini perlu terus dibangun dan dijaga bersama," harapnya.
Lebih jauh, Fauzi menilai forum Empat Pilar Kebangsaan harus mampu melahirkan pemikiran kritis dari generasi muda. Gagasan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi dapat menjadi rekomendasi konkret bagi para pengambil kebijakan.
"Dari forum-forum seperti ini akan lahir pemikiran yang bisa direkomendasikan kepada para pemimpin. Tapi tentu harus kita jaga dan kawal bersama," ujarnya.
Diskusi juga diperkaya oleh pandangan narasumber lain. Moh. Thoha mengingatkan bahwa kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, tidak boleh menggantikan tanggung jawab moral manusia sebagai warga negara. Sementara Faishol Ridho mengkritisi arah pembangunan yang terlalu menitikberatkan pertumbuhan ekonomi dan mengabaikan nilai kemanusiaan serta keberlanjutan lingkungan.
Diskusi interaktif yang melibatkan pemuda dan mahasiswa itu memperlihatkan kegelisahan nyata generasi muda terhadap praktik toleransi dan persatuan yang dinilai semakin rapuh di ruang digital. Forum ini menegaskan bahwa tantangan kebangsaan tidak cukup dijawab lewat slogan, tetapi menuntut partisipasi aktif, keberanian berpikir kritis, serta komitmen kolektif menjaga Indonesia tetap utuh.
(*)
