
- CEO OpenAI Sam Altman mengaku sama sekali tidak antusias memimpin perusahaan terbuka meski IPO dinilai tak terelakkan.
- OpenAI disebut membutuhkan modal besar untuk menopang pertumbuhan dan persaingan industri AI global.
- Sinyal persiapan IPO makin kuat setelah restrukturisasi dan laporan valuasi OpenAI yang mendekati US$1 triliun.
Langgampos.net - Pernyataan tegas soal IPO OpenAI datang langsung dari CEO Sam Altman. Di tengah pesatnya pertumbuhan ChatGPT dan valuasi raksasa yang terus disorot pasar, Altman justru mengaku tidak memiliki ketertarikan sama sekali untuk memimpin OpenAI sebagai perusahaan publik, meski peluang melantai di bursa dinilai semakin nyata.
Dalam wawancara di Big Technology Podcast, Sam Altman secara gamblang menyampaikan sikap pribadinya. Ia mengatakan antusiasmenya untuk menjadi CEO perusahaan terbuka berada di angka nol persen.
Pernyataan ini muncul saat OpenAI kian sering dikaitkan dengan rencana penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO). Altman mengakui, di satu sisi ia melihat manfaat OpenAI menjadi perusahaan publik, namun di sisi lain ia menilai proses tersebut juga berpotensi merepotkan.
Altman menjelaskan bahwa dorongan menuju IPO lebih banyak dipicu oleh kebutuhan praktis. OpenAI membutuhkan modal sangat besar untuk mendukung riset, pengembangan model AI, serta ekspansi bisnis. Ia menyebut perusahaan pada akhirnya akan melewati batas jumlah pemegang saham dan ketentuan lain yang lazim mendorong perusahaan besar melantai di bursa. Meski begitu, Altman menilai status sebagai perusahaan privat masih menawarkan banyak kenyamanan.
Dari sisi waktu, Altman menilai OpenAI justru akan tergolong terlambat jika dibandingkan perusahaan teknologi lain yang lebih cepat melantai di bursa. Ia juga menilai positif keterlibatan pasar publik dalam proses penciptaan nilai, meski secara pribadi tidak antusias terhadap peran kepemimpinan di perusahaan terbuka.
OpenAI sendiri didirikan pada 2015 oleh Sam Altman bersama 11 pendiri lainnya. Perusahaan ini mengalami lonjakan pertumbuhan signifikan setelah meluncurkan ChatGPT pada 2022. Saat ini, ChatGPT diklaim memiliki sekitar 800 juta pengguna mingguan, menjadikannya salah satu produk AI paling populer di dunia. Selain itu, OpenAI telah meneken kerja sama bernilai besar dengan raksasa teknologi seperti Oracle, Nvidia, dan AMD, dengan total kesepakatan yang dilaporkan mencapai sekitar US$1 triliun.
Sinyal persiapan IPO OpenAI juga kian terlihat dari berbagai laporan media internasional. Reuters sebelumnya melaporkan bahwa OpenAI mempertimbangkan untuk mulai mengajukan dokumen ke regulator pasar modal paling cepat pada paruh kedua 2026. Dalam wawancara lain awal tahun ini, Altman masih menjawab singkat “saya tidak tahu” ketika ditanya apakah OpenAI akan melantai di bursa dalam waktu dekat.
Namun, laporan terbaru menyebutkan bahwa OpenAI telah memulai pembicaraan awal terkait IPO. Perusahaan disebut memiliki valuasi sekitar US$830 miliar, sementara estimasi lain dari Reuters menyebut valuasi OpenAI bisa menembus US$1 triliun. Laporan tersebut juga menyebutkan CFO OpenAI, Sarah Friar, menargetkan pencatatan saham pada 2027, dengan kemungkinan pengajuan IPO pada akhir 2026.
Langkah menuju pasar modal dinilai krusial untuk memperkuat posisi OpenAI dalam persaingan industri kecerdasan buatan yang semakin ketat. OpenAI awalnya berdiri sebagai organisasi nirlaba, namun pada Oktober lalu melakukan restrukturisasi besar yang mengubahnya menjadi entitas berorientasi laba. Dalam skema baru ini, organisasi nirlaba pengendali OpenAI memperoleh saham senilai US$130 miliar.
Restrukturisasi tersebut juga berdampak pada kepemilikan Microsoft yang dikabarkan turun menjadi sekitar 27 persen, meski akses risetnya diperluas. Perubahan ini memberi ruang bagi OpenAI untuk menjalin kemitraan lebih luas dengan penyedia komputasi awan lainnya, sekaligus membuka jalan bagi pendanaan skala besar.
Tekanan persaingan di sektor AI semakin terasa ketika Altman mengeluarkan memo internal bertajuk “code red” setelah Google meluncurkan model Gemini 3. Memo tersebut menyerukan fokus intensif selama delapan pekan untuk mempercepat pekerjaan inti OpenAI, sambil menunda inisiatif lain seperti iklan dan ekspansi e-commerce.
Strategi tersebut berbuah hasil setelah OpenAI meluncurkan model GPT-5.2, disusul model pembuat gambar terbaru yang diposisikan sebagai pesaing produk Google. CEO OpenAI untuk aplikasi, Fidji Simo, menyebut peluncuran itu bukan reaksi langsung terhadap Gemini 3, namun tambahan sumber daya dari kebijakan “code red” membantu mempercepat proses pengembangan dan rilis produk.
Altman menjelaskan bahwa dorongan menuju IPO lebih banyak dipicu oleh kebutuhan praktis. OpenAI membutuhkan modal sangat besar untuk mendukung riset, pengembangan model AI, serta ekspansi bisnis. Ia menyebut perusahaan pada akhirnya akan melewati batas jumlah pemegang saham dan ketentuan lain yang lazim mendorong perusahaan besar melantai di bursa. Meski begitu, Altman menilai status sebagai perusahaan privat masih menawarkan banyak kenyamanan.
Dari sisi waktu, Altman menilai OpenAI justru akan tergolong terlambat jika dibandingkan perusahaan teknologi lain yang lebih cepat melantai di bursa. Ia juga menilai positif keterlibatan pasar publik dalam proses penciptaan nilai, meski secara pribadi tidak antusias terhadap peran kepemimpinan di perusahaan terbuka.
OpenAI sendiri didirikan pada 2015 oleh Sam Altman bersama 11 pendiri lainnya. Perusahaan ini mengalami lonjakan pertumbuhan signifikan setelah meluncurkan ChatGPT pada 2022. Saat ini, ChatGPT diklaim memiliki sekitar 800 juta pengguna mingguan, menjadikannya salah satu produk AI paling populer di dunia. Selain itu, OpenAI telah meneken kerja sama bernilai besar dengan raksasa teknologi seperti Oracle, Nvidia, dan AMD, dengan total kesepakatan yang dilaporkan mencapai sekitar US$1 triliun.
Sinyal persiapan IPO OpenAI juga kian terlihat dari berbagai laporan media internasional. Reuters sebelumnya melaporkan bahwa OpenAI mempertimbangkan untuk mulai mengajukan dokumen ke regulator pasar modal paling cepat pada paruh kedua 2026. Dalam wawancara lain awal tahun ini, Altman masih menjawab singkat “saya tidak tahu” ketika ditanya apakah OpenAI akan melantai di bursa dalam waktu dekat.
Namun, laporan terbaru menyebutkan bahwa OpenAI telah memulai pembicaraan awal terkait IPO. Perusahaan disebut memiliki valuasi sekitar US$830 miliar, sementara estimasi lain dari Reuters menyebut valuasi OpenAI bisa menembus US$1 triliun. Laporan tersebut juga menyebutkan CFO OpenAI, Sarah Friar, menargetkan pencatatan saham pada 2027, dengan kemungkinan pengajuan IPO pada akhir 2026.
Langkah menuju pasar modal dinilai krusial untuk memperkuat posisi OpenAI dalam persaingan industri kecerdasan buatan yang semakin ketat. OpenAI awalnya berdiri sebagai organisasi nirlaba, namun pada Oktober lalu melakukan restrukturisasi besar yang mengubahnya menjadi entitas berorientasi laba. Dalam skema baru ini, organisasi nirlaba pengendali OpenAI memperoleh saham senilai US$130 miliar.
Restrukturisasi tersebut juga berdampak pada kepemilikan Microsoft yang dikabarkan turun menjadi sekitar 27 persen, meski akses risetnya diperluas. Perubahan ini memberi ruang bagi OpenAI untuk menjalin kemitraan lebih luas dengan penyedia komputasi awan lainnya, sekaligus membuka jalan bagi pendanaan skala besar.
Tekanan persaingan di sektor AI semakin terasa ketika Altman mengeluarkan memo internal bertajuk “code red” setelah Google meluncurkan model Gemini 3. Memo tersebut menyerukan fokus intensif selama delapan pekan untuk mempercepat pekerjaan inti OpenAI, sambil menunda inisiatif lain seperti iklan dan ekspansi e-commerce.
Strategi tersebut berbuah hasil setelah OpenAI meluncurkan model GPT-5.2, disusul model pembuat gambar terbaru yang diposisikan sebagai pesaing produk Google. CEO OpenAI untuk aplikasi, Fidji Simo, menyebut peluncuran itu bukan reaksi langsung terhadap Gemini 3, namun tambahan sumber daya dari kebijakan “code red” membantu mempercepat proses pengembangan dan rilis produk.
(*)