- Azoospermia merupakan kondisi nihilnya sperma pada cairan mani yang menyumbang sekitar 20% kasus infertilitas pria secara global.
- Gaya hidup buruk seperti kurang tidur, merokok, stres, hingga konsumsi makanan ultra-proses menjadi pemicu utama penurunan kualitas produksi sperma.
- Dua tipe utama kondisi ini adalah tipe sumbatan (infeksi/trauma) dan non-sumbatan (gangguan produksi), yang keduanya memerlukan penanganan medis khusus seperti bayi tabung.
Langgampos.net - Kesehatan reproduksi pria kini tengah menghadapi ancaman serius seiring dengan meningkatnya kasus azoospermia atau sperma kosong yang dipicu oleh kebiasaan buruk dan paparan lingkungan modern.
Kondisi medis ini merujuk pada ketiadaan sel sperma dalam air mani, yang menjadi faktor utama penyebab kemandulan atau infertilitas pada pria di seluruh dunia.
Dokter Spesialis Andrologi dari Eka Hospital Grand Family PIK, dr. Christian Christoper Sunnu, mengungkapkan bahwa fenomena ini kian mengkhawatirkan karena jumlah sperma pria secara global tercatat merosot hingga lebih dari 50 persen dalam kurun waktu 50 tahun terakhir.
Dokter Spesialis Andrologi dari Eka Hospital Grand Family PIK, dr. Christian Christoper Sunnu, mengungkapkan bahwa fenomena ini kian mengkhawatirkan karena jumlah sperma pria secara global tercatat merosot hingga lebih dari 50 persen dalam kurun waktu 50 tahun terakhir.
Di Indonesia, data menunjukkan sekitar 30 persen dari 4 hingga 6 juta pasangan subur mengalami kendala momongan akibat faktor infertilitas pria.
"Penyebabnya beragam, mulai dari gaya hidup tidak teratur, kurang tidur, stres, polusi, merokok, alkohol, hingga pola makan tinggi gula dan pengawet," jelas dr. Sunnu saat memberikan keterangan di Tangerang, Banten, pada Selasa (17/12/2025).
Mengenal Dua Tipe Sperma Kosong
Dalam penjelasannya, dr. Sunnu membagi azoospermia ke dalam dua kategori besar:
Dunia medis mengakui bahwa memulihkan kondisi sperma dari nol menjadi normal kembali merupakan tantangan besar.
"Penyebabnya beragam, mulai dari gaya hidup tidak teratur, kurang tidur, stres, polusi, merokok, alkohol, hingga pola makan tinggi gula dan pengawet," jelas dr. Sunnu saat memberikan keterangan di Tangerang, Banten, pada Selasa (17/12/2025).
Mengenal Dua Tipe Sperma Kosong
Dalam penjelasannya, dr. Sunnu membagi azoospermia ke dalam dua kategori besar:
- Tipe Sumbatan: Terjadi akibat adanya hambatan pada saluran reproduksi. Pemicunya bisa berupa infeksi masa lalu (sering kali akibat perilaku seksual berisiko), trauma fisik pada testis, atau faktor genetik sejak lahir.
- Tipe Non-Sumbatan: Kondisi ini berkaitan langsung dengan kegagalan pabrik sperma dalam berproduksi. Selain gaya hidup, pemicunya meliputi gangguan hormon, efek samping obat-obatan, varikokel, hingga riwayat infeksi virus seperti gondongan atau Covid-19.
Dunia medis mengakui bahwa memulihkan kondisi sperma dari nol menjadi normal kembali merupakan tantangan besar.
Belum ada terapi tunggal yang mampu menjamin kesembuhan total bagi penderita azoospermia.
Meski terapi hormon atau penggunaan stem cell bisa membantu pada kasus tertentu, prosedur bayi tabung (In Vitro Fertilization/IVF) sering kali menjadi jalan keluar terakhir bagi pasangan yang ingin memiliki keturunan.
Dr. Sunnu menekankan bahwa menjaga kesehatan testis atau buah zakar harus dilakukan sedini mungkin.
Dr. Sunnu menekankan bahwa menjaga kesehatan testis atau buah zakar harus dilakukan sedini mungkin.
Kerusakan pada organ vital ini cenderung bersifat permanen dan sulit untuk diperbaiki di masa mendatang.
Oleh karena itu, kesadaran menjaga pola hidup sehat perlu dimulai sejak usia kecil tanpa harus menunggu munculnya masalah kesuburan setelah menikah.
Langkah preventif ini diharapkan mampu menekan angka infertilitas pria di masa depan melalui perbaikan kualitas hidup dan pemutusan rantai kebiasaan buruk sehari-hari.
(*)
