Cara Elegan Menghadapi Bos yang Merasa Paling Pintar Menurut Profesor AS

22 December 2025, December 22, 2025
Cara Elegan Menghadapi Bos yang Merasa Paling Pintar Menurut Profesor AS


  • Bos yang merasa paling pintar sering menutup ruang diskusi dan merugikan tim
  • Strategi komunikasi halus lebih efektif dibanding konfrontasi langsung
  • Menjaga kesehatan mental penting saat menghadapi lingkungan kerja yang sulit

Langgampos.net - Bekerja di lingkungan profesional tidak selalu tentang gaji atau jabatan. Banyak orang justru menghadapi tantangan emosional saat harus berhadapan dengan atasan yang merasa dirinya paling pintar. Fenomena ini kerap muncul di dunia kerja modern, mulai dari kantor korporasi hingga organisasi kreatif, dan dapat berdampak langsung pada kesehatan mental, performa, hingga keberlanjutan karier.

Pemimpin tipe ini umumnya tampil karismatik, penuh energi, dan terlihat percaya diri. Namun di balik itu, mereka sering menganggap perbedaan pendapat sebagai tanda ketidakmampuan, bahkan ancaman. Ide-ide dari anggota tim kerap dipatahkan tanpa dipertimbangkan, meski awalnya sang atasan seolah membuka ruang diskusi. Pada akhirnya, pesan yang terasa jelas adalah “cara saya atau tidak sama sekali”.

Dampaknya tidak sepele. Budaya kerja menjadi kaku, orang-orang memilih diam, dan informasi penting ditahan karena takut diabaikan. Dalam jangka panjang, inovasi mandek, kesalahan tersembunyi, dan praktik tidak etis berpotensi terus berjalan. Situasi seperti ini bukan hanya merugikan perusahaan, tetapi juga menggerus kepercayaan diri individu di dalamnya.

Mengutip pandangan Susan Lucia Annunzio dari The Wall Street Journali, kondisi tersebut masih bisa dihadapi tanpa harus langsung meninggalkan pekerjaan. Susan Lucia Annunzio merupakan CEO Center for High Performance sekaligus profesor manajemen di University of Chicago Booth School of Business. Ia menegaskan bahwa tidak ada strategi yang benar-benar pasti berhasil, namun setidaknya memberi peluang untuk bertahan secara profesional.

Langkah pertama adalah menghindari perebutan kekuasaan. Mengemukakan pendapat tetap penting, tetapi jangan sampai berubah menjadi adu benar dan salah. Fakta dan data memang krusial, namun dalam konflik terbuka, atasan hampir selalu berada di posisi menang. Bahkan ketika ide ditolak mentah-mentah, bukan berarti sia-sia. Seorang klien eksekutif Susan pernah bercerita, "Awalnya, saya mencoba berargumentasi dengannya dan menjelaskan pemikiran saya. Akhirnya, saya menyadari tidak ada gunanya-karena seringkali, dua atau tiga hari kemudian, dia akan kembali dengan antusias untuk memberi tahu saya tentang ide barunya, yang sama persis dengan ide yang saya sarankan sebelumnya."

Pendekatan lain yang lebih halus adalah mengajukan pertanyaan. Bukan untuk menjebak, melainkan membuka sudut pandang baru. Pertanyaan seperti, "Jika kita melakukan ini, apakah hal itu dapat mencegah kita mencapai target pendapatan karena x, y, dan z mungkin terjadi?" atau "Mungkinkah keputusan ini secara tidak sengaja dapat merusak moral pekerja?" memberi ruang bagi atasan untuk menyimpulkan sendiri risiko yang ada tanpa merasa diserang.

Selain itu, penting membangun sekutu. Menghadapi pemimpin dominan sendirian sering kali melelahkan. Dukungan kolega yang memiliki pengaruh dapat memperkuat pesan dan meningkatkan kredibilitas. Ketika sebuah pandangan disampaikan oleh banyak suara, peluang untuk dipertimbangkan menjadi lebih besar.

Namun, jika semua upaya tidak membuahkan hasil, melindungi diri sendiri menjadi prioritas utama. Susan mengingatkan bahwa banyak eksekutif cerdas kehilangan rasa percaya diri akibat penolakan terus-menerus. Jangan biarkan hal itu terjadi. Jaga kesehatan fisik dan mental, atur pola makan, istirahat cukup, dan tetap bergerak aktif. Fokuslah bekerja secara profesional tanpa memaksakan diri melampaui batas.

Melepaskan kebutuhan akan pengakuan juga bisa menjadi strategi bertahan. Jalankan “ide atasan” sebaik mungkin, meski terkadang itu adalah versi lain dari gagasan Anda sendiri. Ketika hasil positif tercapai, nikmati pencapaiannya meski pujian tidak selalu datang.

Pada akhirnya, bahkan atasan yang paling keras bisa menjadi guru kehidupan. Pengalaman diabaikan dan diremehkan mengajarkan empati serta kepemimpinan yang lebih manusiawi. Kekuasaan memang memberi wewenang, tetapi tidak pernah menjadikan seseorang pemilik seluruh jawaban. Pemimpin yang lupa akan hal itu justru sedang berjalan di arah yang keliru.


(*)

TerPopuler