Angka Stunting Sumenep Turun Tajam Hingga 11,2 Persen, Prestasi Luar Biasa

20 April 2026, April 20, 2026
Angka Stunting Sumenep Turun Tajam Hingga 11,2 Persen, Prestasi Luar Biasa




LANGGAMPOS.NET - Angka stunting di Kabupaten Sumenep menorehkan catatan impresif dalam upaya perbaikan kualitas kesehatan anak melalui penurunan prevalensi stunting yang cukup signifikan.

Selama empat tahun terakhir, Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) setempat melihat adanya tren positif yang stabil di lapangan.

Berdasarkan data kumulatif yang dihimpun, langkah preventif dan kuratif yang dijalankan Pemerintah Kabupaten Sumenep perlahan mulai membuahkan hasil nyata bagi masyarakat.

Jika menilik ke belakang, pada tahun 2022 angka stunting di wilayah ujung timur Pulau Madura ini masih bertengger di angka 21,6 persen.

Angka tersebut berhasil dipangkas menjadi 16,7 persen pada tahun 2023, menunjukkan adanya pergerakan masif dalam intervensi gizi di tingkat akar rumput.

Memasuki tahun 2024, performa penurunan kembali melesat ke angka 11,2 persen, sebuah pencapaian yang kian mendekati target nasional.

Sementara untuk periode tahun 2025, data yang tercatat saat ini masih menunjukkan angka yang sama dengan capaian di tahun sebelumnya.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes P2KB Sumenep, Desy Febryana, membeberkan bahwa fluktuasi data ini merupakan buah dari program terpadu.

“Dalam periode 2022 ke 2023 terjadi penurunan sebesar 4,7 persen, kemudian dari 2023 ke 2024 turun lagi sebesar 5,5 persen," urai Desy.

Terkait data tahun 2025, ia menjelaskan bahwa referensi yang digunakan masih mengacu pada survei resmi yang dilakukan pada periode sebelumnya.

"Untuk 2025 masih menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2024, sehingga angkanya tidak berubah,” ujarnya, Senin (20/04/2026).

Menurut Desy, keberhasilan mereduksi angka stunting ini bukan hanya kerja satu pihak, melainkan hasil dari sinergi lintas sektor yang semakin solid.

Layanan kesehatan dasar di Puskesmas, intensifikasi edukasi gizi bagi ibu hamil, serta optimalisasi peran Posyandu menjadi kunci utama perubahan ini.

“Penanganan stunting memang tidak bisa dilakukan secara parsial. Harus melibatkan berbagai pihak, mulai dari tenaga kesehatan, pemerintah desa, hingga keluarga,” tegasnya.

Meski statistik menunjukkan grafik yang memuaskan, Pemerintah Daerah enggan bersikap jemawa dan tetap memprioritaskan konsistensi program di setiap lini.

Evaluasi rutin terus digelar guna memastikan setiap bantuan sosial, nutrisi tambahan, maupun pendampingan kesehatan sampai tepat ke sasaran (by name by address).

Pemkab Sumenep kini menatap masa depan dengan optimisme tinggi untuk melahirkan generasi muda yang lebih sehat, tangguh, dan produktif.

Harapannya, angka stunting dapat terus ditekan hingga mencapai titik terendah melalui komitmen jangka panjang yang tidak terputus.

(*)

TerPopuler

close