- Harga minyak Brent dan WTI melonjak lebih dari 40 persen bulan ini, mencapai level tertinggi sejak 2022.
- Penutupan Selat Hormuz oleh Iran mengancam seperlima pasokan minyak mentah dunia.
- Donald Trump mengancam serangan lebih lanjut ke hub ekspor minyak Iran di Pulau Kharg.
LANGGAMPOS.NET – Ketegangan di Timur Tengah yang semakin memanas membuat harga minyak dunia diprediksi akan terus meroket pada pembukaan pasar pekan ini.
Konflik bersenjata yang melibatkan AS, Israel, dan Iran kini mulai menyasar infrastruktur energi vital yang menjadi tulang punggung pasokan global.
Harga minyak mentah jenis Brent dan West Texas Intermediate (WTI) tercatat sudah melambung tinggi.
Kenaikannya bahkan menembus angka 40 persen sepanjang bulan Maret 2026 ini.
Angka tersebut menjadi rekor tertinggi sejak tahun 2022 silam.
Penyebab utamanya adalah kekhawatiran pasar terhadap gangguan distribusi di jalur laut paling krusial di dunia.
Iran telah mengambil langkah tegas dengan menghentikan pengiriman melalui Selat Hormuz.
Padahal, Selat Hormuz merupakan jalur bagi satu per lima total pasokan minyak dunia setiap harinya.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, juga memberikan pernyataan yang memicu kekhawatiran lebih dalam.
Trump mengancam akan melakukan serangan balasan lebih lanjut ke Pulau Kharg.
Pulau tersebut dikenal sebagai pusat atau hub ekspor utama minyak milik Iran.
Teheran sendiri tidak tinggal diam dan bersumpah akan melakukan aksi balasan yang lebih sengit jika hal itu terjadi.
Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan pasokan minyak global akan anjlok drastis.
Penurunan tersebut diprediksi mencapai delapan juta barel per hari pada bulan Maret ini.
Selain itu, para produsen besar di Timur Tengah juga dikabarkan telah memangkas output hingga 10 juta barel per hari.
Beberapa fasilitas energi di Arab Saudi seperti terminal ekspor Ras Tanura dan pengolahan Abqaiq kini masuk dalam daftar zona merah.
Para analis menyebut fasilitas-fasilitas tersebut sangat rentan menjadi sasaran serangan berikutnya.
Meskipun operasional pengisian minyak di Fujairah, UEA, dilaporkan sudah mulai pulih, ketidakpastian masih menghantui pasar finansial global.
Pelaku pasar kini bersiap menghadapi lonjakan harga bensin dan biaya energi di berbagai negara dalam waktu dekat.
Kondisi geopolitik yang tidak menentu ini diprediksi tetap menjadi faktor utama penggerak harga komoditas energi ke depan.
(*)
Sumber: Reuters


