- Teleskop James Webb (JWST) berhasil memperbarui data lintasan asteroid 2024 YR4 dengan tingkat presisi yang sangat tinggi.
- Peluang tabrakan dengan Bulan yang sebelumnya mencapai 4,3 persen kini resmi dinyatakan turun menjadi nol persen.
- Meski aman dari tabrakan, asteroid berukuran hingga 67 meter ini akan melintas sangat dekat, bahkan lebih dekat dari orbit satelit buatan.
Kepastian ini diperoleh setelah pengamatan terbaru menggunakan James Webb Space Telescope (JWST). Teleskop canggih ini mampu memperbarui perhitungan lintasan asteroid tersebut dengan jauh lebih akurat.
Temuan ini memberikan kelegaan bagi para ilmuwan dan publik. Sebelumnya, asteroid bernama 2024 YR4 sempat dianggap sebagai salah satu objek ruang angkasa paling berisiko yang pernah dipantau.
Pengamatan dilakukan pada 18 Februari dan 26 Februari menggunakan instrumen inframerah JWST yang sangat sensitif. Data baru ini memungkinkan astronom NASA menghitung ulang jalur asteroid tersebut.
Hasilnya cukup mengejutkan. Kemungkinan asteroid menabrak Bulan yang sebelumnya diperkirakan 4,3 persen kini turun menjadi nol persen.
Artinya, asteroid tersebut tidak akan menghantam Bulan ketika melintas pada tahun 2032. Perhitungan terbaru menunjukkan lintasan yang jauh lebih aman.
Meski demikian, jarak lintasannya tetap sangat dekat dalam skala astronomi. Asteroid itu diperkirakan akan melintas sekitar 13.200 mil atau 21.200 kilometer dari permukaan Bulan.
Jarak tersebut bahkan lebih dekat daripada jarak sebagian satelit buatan yang mengorbit Bumi. Fenomena ini tetap menjadi perhatian serius para ahli.
Pada saat yang sama, asteroid ini juga dipastikan akan melewati Bumi pada jarak ratusan ribu mil. Planet kita dinyatakan berada dalam zona aman dari ancaman tersebut.
NASA menjelaskan bahwa pengamatan terbaru ini hanya bisa dilakukan berkat kemampuan ekstrem teleskop James Webb. Tanpa teknologi ini, data akurat sulit didapatkan.
“Sejak musim semi 2025, asteroid ini tidak dapat diamati dari Bumi maupun teleskop luar angkasa lainnya kecuali menggunakan Webb,” ujar pejabat NASA.
Bahkan, citra yang diperoleh JWST termasuk pengamatan asteroid paling redup yang pernah dilakukan dalam sejarah. Ini menjadi pencapaian besar dalam dunia astronomi.
Badan Antariksa Eropa (ESA) yang turut mengelola teleskop ini juga menekankan betapa sulitnya misi tersebut. Tantangan teknis yang dihadapi sangat luar biasa.
Bahkan, citra yang diperoleh JWST termasuk pengamatan asteroid paling redup yang pernah dilakukan dalam sejarah. Ini menjadi pencapaian besar dalam dunia astronomi.
Badan Antariksa Eropa (ESA) yang turut mengelola teleskop ini juga menekankan betapa sulitnya misi tersebut. Tantangan teknis yang dihadapi sangat luar biasa.
“Tantangannya sangat besar: menggunakan salah satu mesin paling kompleks yang pernah dibuat manusia untuk melacak objek yang hampir tak terlihat, jutaan kilometer jauhnya, lalu memprediksi posisinya hingga hampir tujuh tahun ke depan dengan akurat,” kata perwakilan ESA.
Asteroid 2024 YR4 pertama kali ditemukan pada akhir 2024 oleh jaringan teleskop Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System (ATLAS).
Setelah ditemukan, pengamatan lanjutan menunjukkan bahwa asteroid ini berukuran cukup besar. Diameternya diperkirakan mencapai 53 hingga 67 meter.
Kini, warga dunia bisa bernapas lega. Ancaman besar yang sempat membayangi tahun 2032 tersebut telah resmi berakhir berkat bantuan teknologi tercanggih manusia.
Asteroid 2024 YR4 pertama kali ditemukan pada akhir 2024 oleh jaringan teleskop Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System (ATLAS).
Setelah ditemukan, pengamatan lanjutan menunjukkan bahwa asteroid ini berukuran cukup besar. Diameternya diperkirakan mencapai 53 hingga 67 meter.
Kini, warga dunia bisa bernapas lega. Ancaman besar yang sempat membayangi tahun 2032 tersebut telah resmi berakhir berkat bantuan teknologi tercanggih manusia.
(*)


