Kisah Tjong A Fie Sang Miliarder yang Enggan Menikmati Harta Sendirian

Kisah Tjong A Fie Sang Miliarder yang Enggan Menikmati Harta Sendirian



  • Tjong A Fie bertransformasi dari penjaga toko kelontong menjadi pengusaha terkaya di Medan melalui sektor perkebunan dan perbankan.
  • Ia mengalokasikan sebagian besar kekayaannya untuk membangun fasilitas publik lintas agama, termasuk menyumbang sepertiga biaya Masjid Raya Medan.
  • Prinsip kedermawanannya didorong oleh rasa tanggung jawab sosial untuk mengembalikan "uang panas" hasil monopoli kolonial kepada rakyat.


LANGGAMPOS.NET - Kota Medan pada akhir abad ke-19 menjadi saksi bisu lahirnya seorang taipan yang tidak hanya piawai menumpuk harta, tetapi juga lihai membagikannya. Tjong A Fie membuktikan bahwa kesuksesan finansial tidak harus berbanding lurus dengan sifat kikir.

Ia tiba di Medan dari China pada tahun 1878 sebagai perantau biasa. Langkah awalnya dimulai dari bawah, yakni menjadi seorang penjaga toko kelontong.

Karakternya yang jujur dan pandai bergaul membuatnya disukai banyak pihak. Tjong A Fie mampu menjalin relasi erat dengan penguasa kolonial Belanda hingga Sultan Deli.

Berkat kedekatan itu, ia mendapatkan konsesi lahan tembakau yang menjadi mesin uang pertamanya. Keuntungan besar tersebut tidak ia konsumsi, melainkan diputar kembali ke bisnis karet.

Insting bisnisnya terbukti tajam. Saat harga tembakau jatuh pada 1891, harga karet justru melambung tinggi, membuat pundi-pundi kekayaannya meledak seketika.

Benny G. Setiono dalam bukunya mencatat bahwa gurita bisnis Tjong A Fie merambah ke berbagai sektor. Mulai dari pabrik gula, kereta api, hingga industri perbankan.

Namun, di balik gelimang harta itu, muncul sebuah kesadaran moral yang mendalam. Ia merasa tidak pantas menikmati seluruh kekayaan itu sendirian karena merasa hartanya mengandung unsur "uang panas".

Istilah tersebut merujuk pada sebagian sumber keuntungannya yang berasal dari praktik monopoli candu di era kolonial. Ia pun memutuskan untuk "membersihkan" harta tersebut melalui jalur filantropi.

"Maka, dia banyak melakukan kegiatan sosial dengan membangun sarana-sarana untuk kepentingan umum," tulis Benny G. Setiono.

Tjong A Fie pun dikenal sebagai tokoh pemersatu. Meski seorang Tionghoa, ia menjadi penyumbang sepertiga biaya pembangunan Masjid Raya Medan sebagai bentuk penghormatan kepada warga Muslim.

Tak berhenti di sana, ia juga mendirikan gereja, klenteng, pura, hingga rumah sakit dan sekolah. Baginya, membantu sesama tidak boleh terhalang oleh sekat suku maupun agama.

Kedermawanannya bahkan menyentuh level akar rumput. Ia sering berkeliling kampung untuk membagikan beras dan uang secara langsung kepada warga miskin yang membutuhkan.

Hingga akhir hayatnya pada 8 Februari 1921, ribuan orang dari berbagai daerah datang melayat untuk memberi penghormatan terakhir. Jejak kebaikannya kini abadi dalam bangunan bersejarah dan nama jalan di jantung Kota Medan.


(*)
Donasi Langgampos
close