- Kaldu Kokot tetap menjadi primadona kuliner tradisional Madura di tengah gempuran makanan modern.
- Kombinasi unik kikil sapi dan kacang hijau menciptakan cita rasa gurih yang khas dan melegenda.
- Proses pengolahan tradisional yang memakan waktu lama menjadi kunci utama kelembutan tekstur kikil.
LANGGAMPOS.NET - SUMENEP – Kepulan asap beraroma rempah menyambut setiap pengunjung yang ingin mencicipi hidangan legendaris di ujung timur Pulau Madura. Di saat tren kuliner kekinian datang dan pergi, Kaldu Kokot khas Sumenep justru semakin mengukuhkan posisinya sebagai ikon pangan lokal yang tak lekang oleh waktu.
Sajian berbahan dasar kikil sapi yang dipadukan dengan kacang hijau ini dikenal luas karena rasa gurihnya yang mendalam. Hingga kini, masyarakat Sumenep masih menjadikan menu ini sebagai pilihan utama, baik untuk sarapan maupun makan siang.
Eksistensi Kaldu Kokot dari generasi ke generasi bukan tanpa alasan. Selain mengenyangkan, hidangan ini menawarkan tekstur dan aroma yang sulit ditemukan pada jenis sup lainnya.
Proses pembuatan Kaldu Kokot terbilang cukup rumit dan membutuhkan kesabaran ekstra. Kikil sapi sebagai bahan utama harus direbus dalam durasi yang sangat lama agar mendapatkan tekstur yang benar-benar empuk.
Tahapan perebusan ini merupakan kunci vital. Jika tidak dilakukan dengan tepat, kikil akan terasa alot dan menyisakan aroma yang kurang sedap yang dapat merusak kualitas hidangan.
Setelah empuk, kikil kemudian dimasak kembali bersama racikan bumbu rempah seperti bawang merah, bawang putih, jahe, dan merica. Perpaduan inilah yang melahirkan aroma kuat nan menggugah selera.
Hal unik yang membedakan Kaldu Kokot dari sajian kuah lainnya adalah penggunaan kacang hijau. Kacang hijau direbus hingga mekar sebelum dicampurkan ke dalam kuah kikil yang kaya rempah.
Campuran tersebut memberikan tekstur kental alami pada kuahnya. Racikan spesial ini menjadi identitas yang melekat erat pada varian Kaldu Kokot Kalianget yang tersohor.
Salah satu penjual Kaldu Kokot menekankan bahwa tidak ada jalan pintas untuk menciptakan rasa yang sempurna. Kesabaran dalam mengolah bahan baku sangat menentukan hasil akhir.
“Kikil harus direbus lama supaya empuk dan bumbunya benar-benar meresap. Kalau terburu-buru, rasanya tidak keluar,” ujarnya.
Saat disajikan, Kaldu Kokot biasanya dilengkapi dengan taburan bawang goreng dan irisan daun bawang segar. Untuk melengkapi kenikmatannya, pengunjung sering menyantapnya bersama potongan lontong atau singkong rebus.
Meski terlihat sederhana, perpaduan tekstur lembut kikil dan gurihnya kacang hijau membuat kuliner ini terus bertahan. Kaldu Kokot kini bukan sekadar makanan, melainkan identitas budaya yang tetap dicintai masyarakat.
(*)


