- Gladys Bay membagikan pengalaman uniknya saat menjalani proses syuting drama Korea (drakor) bertajuk Absolute Value Of Romance.
- Berbeda dengan Singapura, etika di lokasi syuting Korea Selatan sangat ketat, terutama dalam hal menyapa kru.
- Gladys mengaku harus membungkuk hingga 100 kali sehari demi menghormati hierarki dan budaya kerja di Korea.
LANGGAMPOS.NET – Dunia hiburan Korea Selatan memang selalu menarik untuk dibahas, namun di balik layar yang gemerlap, tersimpan budaya kerja Korea Selatan yang sangat disiplin dan penuh etika. Hal ini dirasakan langsung oleh aktris jebolan Star Search 2024, Gladys Bay.
Gladys Bay baru-baru ini mencuri perhatian publik setelah membagikan kisah "back-breaking" atau perjuangan fisiknya saat syuting di Negeri Ginseng.
Aktris berusia 29 tahun ini terlibat dalam proyek drakor Absolute Value Of Romance, yang merupakan kolaborasi perdana Mediacorp dengan layanan streaming Korea Selatan, Coupang Play.
Perbedaan Mencolok Etika di Lokasi Syuting
Dalam wawancaranya dengan Zaobao.sg, Gladys mengungkapkan betapa kontrasnya etika di lokasi syuting Korea Selatan dibandingkan dengan di Singapura.
Perbedaan Mencolok Etika di Lokasi Syuting
Dalam wawancaranya dengan Zaobao.sg, Gladys mengungkapkan betapa kontrasnya etika di lokasi syuting Korea Selatan dibandingkan dengan di Singapura.
Jika di negaranya cukup dengan sapaan verbal atau sekadar kontak mata, di Korea hal itu tidak berlaku.
"Saya membungkuk 100 kali sehari di set. Ini bukan melebih-lebihkan," ujar bintang drama Under The Net tersebut.
Ia menjelaskan bahwa jumlah kru yang mencapai sekitar 100 orang menuntutnya untuk memberikan penghormatan kepada setiap individu secara personal.
"Saya membungkuk 100 kali sehari di set. Ini bukan melebih-lebihkan," ujar bintang drama Under The Net tersebut.
Ia menjelaskan bahwa jumlah kru yang mencapai sekitar 100 orang menuntutnya untuk memberikan penghormatan kepada setiap individu secara personal.
Menghargai hierarki adalah kunci utama agar tetap profesional dalam lingkungan kerja tersebut.
Adaptasi Budaya Kerja yang Ketat
Berperan sebagai siswi SMA berusia 17 tahun yang mengikuti program pertukaran pelajar, Gladys mengaku sangat terbantu karena pernah tinggal di Seoul saat masa kuliah.
Adaptasi Budaya Kerja yang Ketat
Berperan sebagai siswi SMA berusia 17 tahun yang mengikuti program pertukaran pelajar, Gladys mengaku sangat terbantu karena pernah tinggal di Seoul saat masa kuliah.
Namun, tetap saja pengalaman syuting drakor Gladys Bay ini memberikan tantangan baru.
Sebagai satu-satunya orang asing di tengah ratusan kru lokal, ia dituntut untuk memahami berbagai frasa khusus.
Sebagai satu-satunya orang asing di tengah ratusan kru lokal, ia dituntut untuk memahami berbagai frasa khusus.
Ada aturan tak tertulis mengenai apa yang harus diucapkan saat tiba di lokasi, sebelum makan, sesudah makan, hingga saat menyelesaikan syuting harian (wrapping up).
Menghormati Tradisi demi Profesionalisme
Meski terasa melelahkan secara fisik karena harus terus-menerus membungkuk, Gladys menekankan pentingnya adaptasi.
Menghormati Tradisi demi Profesionalisme
Meski terasa melelahkan secara fisik karena harus terus-menerus membungkuk, Gladys menekankan pentingnya adaptasi.
Baginya, mengikuti budaya kerja di Korea Selatan adalah bentuk rasa hormat sebagai pendatang.
"Ini adalah budaya mereka, dan saya ingin menghormatinya," tegasnya.
Kedisiplinan dan tata krama yang kaku ini memang menjadi ciri khas industri hiburan Korea yang telah mendunia. Melalui pengalamannya,
"Ini adalah budaya mereka, dan saya ingin menghormatinya," tegasnya.
Kedisiplinan dan tata krama yang kaku ini memang menjadi ciri khas industri hiburan Korea yang telah mendunia. Melalui pengalamannya,
Gladys memberikan gambaran nyata bagi para talenta internasional yang ingin merambah pasar drakor mengenai betapa pentingnya kesiapan mental dan fisik.
Kisah Gladys Bay ini menjadi pengingat bahwa kesuksesan sebuah produksi drakor tidak hanya ditentukan oleh akting yang mumpuni, tetapi juga oleh keharmonisan dan rasa hormat antar kru di lapangan.
Kisah Gladys Bay ini menjadi pengingat bahwa kesuksesan sebuah produksi drakor tidak hanya ditentukan oleh akting yang mumpuni, tetapi juga oleh keharmonisan dan rasa hormat antar kru di lapangan.
(*)


