- Serangan udara Israel menghantam Lembah Bekaa, Lebanon, menewaskan sedikitnya 10 orang dan melukai 50 lainnya.
- Militer Israel mengklaim serangan tersebut menargetkan pusat komando dan jaringan rudal Hizbullah di kawasan Baalbek.
- Eskalasi ini mengancam kesepakatan gencatan senjata tahun 2024 yang dimediasi oleh Amerika Serikat.
LANGGAMPOS.NET – Kawasan Lembah Bekaa di Lebanon Timur mendadak mencekam setelah deretan ledakan dahsyat mengguncang wilayah tersebut. Serangkaian serangan udara yang dilancarkan militer Israel dilaporkan telah memakan banyak korban jiwa dan luka-luka.
Melansir dari Reuters pada Minggu (22/2/2026), insiden berdarah ini menewaskan sedikitnya 10 orang. Selain itu, sekitar 50 orang lainnya harus dilarikan ke rumah sakit akibat luka-luka yang diderita.
Serangan ini disebut sebagai salah satu aksi militer paling mematikan dalam beberapa pekan terakhir. Hal ini memicu kekhawatiran besar akan nasib gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah yang kini berada di ujung tanduk.
Pihak Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan bahwa operasi udara tersebut diarahkan ke lokasi strategis milik Hizbullah. Kawasan Baalbek menjadi titik utama yang disasar oleh jet tempur mereka.
Dalam keterangan resminya, militer Israel berdalih telah menyerang pusat-pusat komando Hizbullah. Mereka mengklaim langkah ini adalah upaya pencegahan terhadap rencana serangan musuh.
"Melumpuhkan beberapa teroris dari jaringan rudal Hizbullah di tiga pusat komando berbeda ... yang baru-baru ini diidentifikasi beroperasi untuk mempercepat kesiapan organisasi dan proses pembangunan kekuatan, sambil merencanakan serangan tembakan ke arah Israel," tulis pernyataan militer Israel pada Sabtu (21/2/2026).
Kondisi di lapangan menunjukkan ketegangan yang terus meningkat sejak kesepakatan damai tahun 2024. Padahal, mediasi Amerika Serikat saat itu diharapkan mampu mengakhiri baku tembak lintas batas secara permanen.
Kini, kedua belah pihak justru saling lempar tuduhan terkait pelanggaran kesepakatan. Hizbullah sendiri telah mengonfirmasi gugurnya sejumlah personel mereka akibat serangan tersebut.
Hizbullah menyatakan bahwa delapan pejuangnya tewas dalam serangan di Bekaa pada Jumat lalu. Salah satu yang gugur adalah seorang komandan bernama Hussein Mohammad Yaghi.
"Mereka gugur akibat serangan Israel," tegas pernyataan resmi dari kelompok bersenjata tersebut tanpa merinci lokasi detail kejadiannya.
Di sisi lain, Presiden Lebanon Joseph Aoun melontarkan kecaman keras atas tindakan militer Israel di wilayah Sidon dan Bekaa. Ia menyebut aksi semalam sebagai bentuk pelanggaran kedaulatan yang nyata.
Kantor kepresidenan Lebanon menilai serangan itu sebagai "kekerasan baru". Mereka juga menganggap Israel telah mengabaikan kewajiban yang diatur oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Presiden Aoun kini mendesak komunitas internasional, terutama Amerika Serikat, untuk segera bertindak. Lebanon meminta tekanan diplomatik agar Israel menghentikan gempuran demi menjaga stabilitas kawasan yang kian rapuh.
Eskalasi terbaru ini menjadi ujian berat bagi komitmen perdamaian di Timur Tengah. Publik kini menanti apakah diplomasi Washington mampu meredam amarah Netanyahu agar situasi tidak semakin memburuk.
(*)
Sumber: CNBC Indonesia (22/2/2026)


