LANGGAMPOS.NET - Selera makan seseorang ternyata tidak hanya soal lidah, tetapi juga bisa mencerminkan kondisi kejiwaan yang tersembunyi.
Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa pilihan makanan tertentu dapat menjadi indikator awal untuk mengenali sifat psikopat atau gangguan kepribadian antisosial (ASPD).
Penelitian yang dilakukan oleh para ahli di University of Innsbruck, Austria, melibatkan 935 responden untuk menguji korelasi antara selera rasa dan kepribadian.
Hasilnya cukup mengejutkan, di mana terdapat hubungan signifikan antara kecintaan pada rasa pahit dengan kecenderungan perilaku sadis sehari-hari.
Dalam tes tersebut, mereka yang memilih makanan pahit juga menunjukkan skor tinggi pada ciri narsisme, agresi, hingga kurangnya rasa empati.
Beberapa jenis makanan dan minuman yang masuk dalam kategori ini adalah kopi hitam tanpa gula, lobak, bir, seledri, dan air tonik.
Para peneliti, Sagioglou dan Greitemeyer, mencatat bahwa preferensi terhadap rasa pahit ini berbanding lurus dengan sifat-sifat kejam dalam diri seseorang.
Uniknya, fenomena ini berbanding terbalik dengan orang-orang yang memiliki kepribadian hangat dan ramah.
Individu yang dikenal baik hati dan penuh empati biasanya lebih condong menyukai makanan manis, seperti permen atau cokelat susu.
Meski begitu, psikopat dalam dunia medis tidak selalu berarti pembunuh kejam seperti yang sering digambarkan dalam film.
Istilah medis yang lebih tepat adalah ASPD, di mana penderitanya sering mengabaikan hak orang lain dan melanggar norma sosial tanpa rasa bersalah.
Tanda lainnya adalah perilaku manipulatif, sering berbohong demi keuntungan pribadi, serta tindakan impulsif yang berisiko.
Penderita ASPD juga kerap menunjukkan sikap agresif, baik secara fisik maupun verbal, kepada orang-orang di sekitar mereka.
Mereka memiliki kemampuan untuk melihat sudut pandang orang lain, namun seringkali tidak peduli dengan dampak tindakan mereka terhadap sesama.
Melalui temuan ini, diharapkan masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan mental dan memahami tanda-tanda perilaku antisosial sejak dini demi keamanan bersama.
(*)


