- Kajian Ilmiah: Sejumlah ilmuwan mencoba mengidentifikasi jenis batuan Hajar Aswad melalui pendekatan sains modern.
- Teori Meteorit: Muncul dugaan kuat bahwa batu suci ini merupakan bagian dari meteorit yang jatuh ke bumi ribuan tahun lalu.
- Analisis Tekstur: Tekstur unik dan sifat fisik Hajar Aswad menunjukkan karakteristik yang tidak ditemukan pada batuan bumi biasa.
LANGGAMPOS.NET - Teka-teki mengenai identitas fisik Hajar Aswad yang berada di sudut Ka'bah terus memicu rasa penasaran komunitas ilmiah internasional hingga saat ini.
Banyak peneliti yang mendedikasikan waktu mereka untuk mengkaji apakah batu hitam tersebut benar-benar berasal dari luar angkasa atau memiliki formasi geologi tertentu.
Sejarah mencatat bahwa Hajar Aswad dipercaya berasal dari surga, yang dalam bahasa sains sering dikaitkan dengan benda langit atau meteorit.
Sejumlah ahli berpendapat bahwa Hajar Aswad masuk sebagai kategori batu meteorit karena adanya jejak sejarah yang merujuk pada benda jatuh dari langit.
Salah satu teori yang cukup populer datang dari seorang peneliti bernama Thomsen yang melakukan studi mendalam terhadap karakteristik fisik batu tersebut.
Thomsen memberikan pernyataan yang sangat menarik mengenai hasil observasinya terhadap batuan di area tersebut.
"Hajar Aswad memiliki karakteristik yang serupa dengan kaca impaksi," ungkap Thomsen dalam laporan penelitiannya.
Kaca impaksi sendiri biasanya terbentuk akibat panas yang luar biasa dari hantaman meteorit yang jatuh ke permukaan bumi.
Penelitian ini kemudian mencoba menghubungkan Hajar Aswad dengan situs Kawah Wabar yang terletak di gurun Rub' al Khali, Arab Saudi.
Para ilmuwan menduga bahwa fragmen-fragmen dari ledakan meteorit di Wabar itulah yang menjadi asal muasal batuan unik ini.
Meski demikian, pengambilan sampel secara langsung untuk uji laboratorium masih sangat sulit dilakukan karena kesucian dan perlindungan ketat terhadap objek tersebut.
Hingga kini, dialog antara keyakinan agama dan bukti ilmiah terus berjalan beriringan tanpa harus saling meniadakan satu sama lain.
Kombinasi antara catatan sejarah Islam dan temuan geologi memberikan dimensi baru bagi umat manusia dalam memahami keajaiban batu di pusat kiblat dunia tersebut.
Studi sains ini diharapkan bisa memberikan pemahaman lebih luas bagi mereka yang ingin mengetahui sisi teknis di balik sejarah besar peradaban manusia.
(*)


